Rabu, 14 April 2010


MENATA ORGANISASI TA’MIR MASJID

 

 

Hanyalah yang memakmurkan Masjid-Masjid  Allah ialah  orang-orang yang beriman  kepada  Allah dan  hari  kemudian,  serta  tetap  mendirikan shalat,  menunaikan  zakat  dan  tidak   takut  (kepada  siapapun) selain kepada  Allah,

 maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan  orang-orang yang mendapat  petunjuk.

 

 (QS 9:18, At Taubah)

 

 

ORGANISASI TA’MIR MASJID YANG DIPERLUKAN

 

Masjid tempat beribadah umat Islam, baik dalam  arti khusus (mahdlah) maupun luas (ghairu mahdlah). Bangunannya yang  besar, indah dan bersih sangat didambakan, namun masih kurang bermakna apabila tidak ada aktivitas syi’ar Islam yang semarak. Shalat  berjama'ah merupakan parameter adanya kemakmuran Masjid, dan sekaligus menjadi indikator kereligiusan  umat Islam di  sekitarnya. Kegiatan-kegiatan  sosial, da'wah, pendidikan dan lain sebagainya juga akan menambah  kesemarakan dalam memakmurkan Masjid.

Masjid adalah Baitullah  tempat kita beribadah dan kembali kepada-Nya. Di Masjid kita mengabdi kepada Allah subhanahu wa ta’ala, berjama’ah dalam shaff-shaff yang teratur. Sikap dan perilaku egaliter dapat dirasakan, kebersamaan dan ukhuwah nampak dengan jelas, serta perasaan saling mengasihi sesama muslim terbentuk dengan baik. Di sini pula ghirah Islam dan kesatuan jama’ah menjadi nyata.

Di  masa Rasulullah Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam, selain digunakan sebagai  tempat shalat  berjama'ah, Masjid juga memiliki fungsi sosial-budaya. Bagi umat Islam mengaktualkan kembali  fungsi  Masjid  sebagai tempat ibadah dan pusat kebudayaan adalah merupakan sikap kembali kepada  sunnah  Rasul;  yang semakin terasa  diperlukan di era globalisasi dengan segenap kemajuannya. Reaktualisasi fungsi dan peran Masjid adalah salah satu  jawaban untuk meraih kembali kejayaan umat Islam.

Dengan  mengaktualkan fungsi dan perannya berarti kita telah menempatkan Masjid pada posisinya  dalam masyarakat  Islam. Masjid menjadi pusat kehidupan umat. Artinya umat Islam menjadikan Masjid sebagai pusat aktivitas jama’ah-imamah serta sosialisasi kebudayaan dan nilai-nilai Islam. Pada gilirannya, insya  Allah, membawa umat pada keadaan yang lebih baik dan lebih islami.

Untuk merealisasikan fungsi dan peran Masjid di abad ke-15 Hijriyah diperlukan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengadopsi prinsip-prinsip organisasi dan management modern. Sehingga aktivitas yang diselenggarakan dapat menyahuti kebutuhan umat serta berlangsung secara efektif dan efisien. Kebutuhan akan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional semakin tidak bisa ditawar lagi mengingat kompleksitas kehidupan umat manusia yang semakin canggih akibat proses globalisasi, kemudahan transportasi, kecepatan informasi dan kemajuan teknologi.

 

 

MERUBAH BUDAYA ORGANISASI

 

Organisasi Ta’mir Masjid secara kuantitas sudah banyak, namun sebagian besar kinerjanya masih sangat memprihatinkan.  Hal ini terlihat dengan kurang profesionalnya Pengurus maupun minimnya aktivitas yang diselenggarakan. Banyak faktor yang mempengaruhi kurang profesionalnya kebanyakan Pengurus Ta’mir Masjid, di antara yang penting adalah minimnya pengetahuan dan kemampuan berorganisasi mereka. Bahkan, ada di antara mereka yang belum mengenal apa itu ilmu organisasi dan management. Sehingga menimbulkan budaya organisasi yang kurang sehat dan dinamis.

Untuk itu, umat Islam perlu menata organisasi Ta’mir Masjid yang sudah ada, terutama sistim organisasi dan managementnya. Merubah budaya organisasi bukan hal yang mudah karena akan menghadapi banyak kendala. Kendala-kendala itu muncul disebabkan adanya faktor-faktor internal dan eksternal, seperti misalnya:

1.      Budaya lama yang sulit menerima perubahan (status quo).

2.      Adanya orang-orang yang merasa kehilangan pengaruh atau tersingkir.

3.      Ketidaksiapan umat dalam menerima sistim baru.

4.      Sumber daya yang masih kurang mendukung.

5.      Kurang jelasnya informasi maupun belum adanya lembaga pemberdayaan (konsultan) Masjid yang handal.

6.      Belum adanya bukti yang dapat dijadikan contoh.

Adanya kendala bukan berarti kita harus menyerah, tetapi justru dituntut untuk lebih serius dalam membawa perubahan positif. Bila perubahan ini berhasil, insya Allah, kita akan menyaksikan organisasi Ta’mir Masjid yang profesional di mana-mana. Mereka mampu mengelola aktivitas kemasjidan secara baik dan bisa saling bekerja sama di tingkat lokal maupun nasional.

 

 

MEMANFAATKAN ILMU ORGANISASI DAN MANAGEMENT

 

Allah subhanahu wa ta’ala telah mengajarkan kepada umat manusia berbagai macam ilmu pengetahuan, baik quraniah maupun kauniah. Semua manusia, baik muslim maupun kafir, mendapat hak sama untuk mendapatkan pengetahuan, sebagaimana firman-Nya:

Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah. Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.  (QS 96:3-5,  Al ‘Alaq).

 

Demikian pula, ilmu organisasi dan management adalah merupakan karunia Allah juga, yang diberikan kepada para hamba-Nya yang mau memperhatikan sunnatullah dan ciptaan-Nya di alam raya ini. Tidak ada salahnya bila kita mengadopsi keilmuan tersebut dengan menggunakan filter nilai-nilai Islam.

Kita tahu, bahwa ilmu organisasi dan management tumbuh secara terstruktur di dunia Barat dan kemudian berkembang dengan baik ke seluruh dunia, terutama Jepang. Mengingat mereka kebanyakan belum muslim, maka diperlukan seleksi. Diakui atau tidak, umat Islam telah memanfaatkannya. Karena itu diperlukan sentuhan nilai-nilai Islam dalam mengaplikasikannya. Bahkan, bilamana memungkinkan umat Islam dapat menghadirkan organisasi dan management yang islami.

Organisasi  dan  management  telah menjadi  bagian  yang  menyatu dengan  kehidupan manusia. Insya Allah, dengan memanfaatkannya suatu lembaga, termasuk organisasi Ta’mir Masjid, dapat bekerja mencapai tujuan  secara efektif  dan efisien, serta dapat  mengantisipasi perkembangan organisasi ke depan. Orang-orang modern telah  mengaplikasikan  dalam berbagai aktivitas, baik yang bertujuan komersial maupun sosial, dan nyata-nyata  telah  memberi  banyak sumbangan  bagi  kemajuan lembaga mereka. Organisasi Ta’mir Masjid bila ingin maju harus  mengadopsi  ilmu organisasi  dan  management modern.

Pada dasarnya penerapan organisasi dan management dalam sistim organisasi Ta’mir Masjid adalah untuk mempermudah usaha mencapai  tujuan. Dengan  menerapkan  prinsip-prinsipnya, insya Allah, akan diperoleh beberapa keuntungan, di antaranya:

1.      Semua aktivitas dilakukan secara  terencana dan  direncanakan berdasarkan pertimbangan rasional serta dapat dipertanggungjawabkan.

2.      Aktivitas diselenggarakan  secara  terorganisir  dengan  menghindari  terjadinya tumpang  tindih.

3.      Dalam melaksanakan aktivitas lebih terkoordinasi dengan sistim kepemimpinan dan tanggungjawab yang jelas.

4.      Pelaksanaan  aktivitas  maupun  hasilnya  dapat   mudah diawasi dan diarahkan sesuai dengan tujuan penyelengaraannya.

 

 

MENCARI ALTERNATIF FORMAT BARU

 

Di Indonesia telah berkembang organisasi Ta’mir Masjid, atau dengan nama lainnya seperti: Dewan Kesejahteraan Masjid, Dewan Kepengurusan Masjid, Dewan Kemakmuran Masjid atau Pengurus Masjid; yang menjadikan Masjid sebagai titik pusat perhatiannya. Sementara faktor umat sebagai satu kesatuan jama’ah masih belum tersentuh dengan baik, sehingga menimbulkan kesenjangan dalam pembinaannya. Masjid dan umat kurang menyatu karena sistim jama’ah-imamah yang kurang tergarap.

Diperlukan kajian-kajian atau pemikiran -khususnya oleh Departemen Agama, IAIN, Universitas Islam dan Ormas Islam- tentang konsep kesatuan Masjid-jama’ah-imamah, agar dapat dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan ketiganya. Namun, konsep tersebut tidak hanya untuk menyahuti pengorganisasian dalam suatu wilayah Masjid saja, tetapi juga membahas mengenai hubungan antar organisasi Ta’mir Masjid, baik di tingkat lokal maupun nasional. Juga, konsep tersebut tidak berhenti pada tataran filosofis-konsepsional saja, tetapi yang lebih penting adalah menjelma dalam konsep-konsep teknis-operasional yang dapat dilaksanakan secara langsung di lapangan.

Kalau sistim tersebut tersusun, kemudian diderivasi dalam petunjuk-petunjuk pelaksanaan dan selanjutnya diaplikasikan dengan baik dalam komunitas muslim, insya Allah, kemakmuran Masjid dan jama’ahnya yang selama ini kita dambakan dapat menjadi kenyataan. Pada gilirannya, kebangkitan Islam dan islamisasi kehidupan umat manusia akan mengalami akselerasi; dan pada akhirnya, Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin dapat kita rasakan bersama.

 

 

PENATAAN ORGANISASI TA’MIR MASJID

 

Saat ini perlu dihadirkan organisasi Ta’mir Masjid yang mampu menyatukan Masjid, jama’ah dan imamah dalam suatu komunitas muslim. Konsep ini menekankan bukan hanya Masjid sebagai tempat aktivitas ibadah, tetapi juga umat Islam sebagai subyek sekaligus obyek dari aktivitas tersebut. Umat Islam di sekitar suatu Masjid membentuk satu kesatuan jama’ah, dan dibimbing oleh imamah Pengurus Ta’mir Masjid. Karakter yang ingin dikembangkan adalah demokratis, egaliter dan penuh partisipasi dengan dilandasi nilai-nilai Islam.

Format organisasi Ta’mir Masjid ini memanfaatkan prinsip-prinsip organisasi dengan lebih serius, seperti adanya tujuan, visi dan misi yang jelas, departementasi dalam bidang-bidang kerja, hirarki kepengurusan yang diikuti adanya hak, wewenang dan tanggungjawab, pendelegasian tugas, pengaturan besarnya span of control, unity of command dan lain sebagainya. Prinsip-prinsip management juga diaplikasikan dengan sungguh-sungguh, misalnya planning, organizing, actuating dan controlling (POAC) maupun yang lebih canggih misalnya Total Quality Management (TQM). Termasuk di dalamnya adalah Siklus Deming (PDCA),  Seven QC Tools, Lima-R, Management Mutu ISO, Gugus Kendali Mutu, Hoshin Planning dan lain sebagainya.

Pemikiran mendasar yang melatarbelakangi format organisasi Ta’mir Masjid adalah karena semakin beragamnya kebutuhan da’wah islamiyah dan keinginan untuk melibatkan seluruh potensi umat dalam upaya-upaya memakmurkan Masjid serta kebutuhan dalam menyahuti kebangkitan Islam yang telah dicanangkan di abad 15 Hijriyah ini.

 

 

PENUTUP

 

Dalam mendukung kebangkitan Islam, Masjid perlu diposisikan sebagaimana fungsi dan perannya di masa Rasulullah dan para sahabatnya. Sehingga, Masjid dapat menjadi sentra aktivitas umat dalam memanfaatkan sumber daya yang ada untuk menuju dunia Islam yang lebih baik. Disayangkan, kebanyakan Masjid kita belum dikelola secara baik dengan sistim pengelolaan yang efektif dan efisien menuju pengamalan Islam secara kaffah. Karena itu diperlukan adanya format-format baru organisasi Ta’mir Masjid yang mampu mengintegrasikan antara Masjid, jama’ah dan imamah, sehingga dapat memakmurkan Masjid dan umat Islam di sekitarnya.

 


PENGANTAR ORGANISASI DAN MANAGEMENT

UNTUK REMAJA MASJID

Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur

seakan-akan mereka seperti suatu bangunan yang tersusun kokoh.

 

(QS 61:4, Ash Shaff)

 

 

PENGERTIAN ORGANISASI REMAJA MASJID

 

Menurut Drs. EK  Imam  Munawir, organisasi  adalah  merupakan  kerja  sama   di antara beberapa  orang  untuk mencapai suatu  tujuan  dengan mengadakan   pembagian  dan  peraturan  kerja.   Yang menjadi  ikatan  kerja sama dalam  organisasi  adalah tercapainya   tujuan  secara  efektif  dan   efisien.    Dari definisi tersebut dapat diambil pengertian, bahwa Remaja Masjid adalah merupakan wadah kerja sama yang dilakukan oleh dua orang remaja muslim atau lebih  yang memiliki keterkaitan dengan  Masjid  untuk mencapai  tujuan bersama. Mengingat keterkaitannya  yang  erat dengan  Masjid, maka peran organisasi ini adalah memakmurkan Masjid.

Sebagai wadah aktivitas  kerja  sama remaja  muslim, maka Remaja  Masjid  perlu merekrut  mereka sebagai anggota. Dipilih remaja muslim yang berusia antara  l5 sampai   25   tahun.   Pemilihan   ini    berdasarkan pertimbangan tingkat pemikiran dan kedewasaan mereka. Usia di bawah 15 tahun adalah terlalu muda, sehingga tingkat   pemikiran  mereka   masih   belum berkembang  dengan baik. Sedang usia di atas 25 tahun, sepertinya sudah kurang layak lagi untuk disebut remaja.   Namun, pendapat ini tidak menutup kemungkinan adanya gagasan yang berbeda.

Tingkat usia anggota perlu dipertimbangkan dengan  baik,  karena berkaitan  dengan pembinaan mereka. Anggota yang memiliki tingkat usia, pemikiran  dan  latar belakang yang  relatif homogen lebih  mudah  dibina bila  dibandingkan  dengan  yang heterogen.  Disamping  itu,  dengan usia yang sebaya, mereka akan  lebih  mudah  untuk bekerjasama dalam  melaksanakan program-program  yang  telah  direncanakan, sehingga akan meningkatkan efektifitas dan efisiensi dalam mencapai tujuan.

PERLUNYA ORGANISASI REMAJA MASJID

 

Da'wah yang  baik  adalah yang diselenggarakan secara terencana, terarah, terus menerus  dan bijaksana. Karena itu perlu   dilakukan  secara kolektif dan terorganisir secara profesional.

Dan  hendaklah ada diantara kamu  segolongan  umat yang menyeru kepada  kebajikan, menyuruh kepada  yang ma'ruf  dan  mencegah  dari  yang  munkar;  merekalah orang-orang yang beruntung.  (QS 3:104, Ali 'Imran).

 

Remaja Masjid merupakan salah  satu bentuk organisasi da'wah islamiyah underbouw  Ta’mir Masjid .  Keberadaannya untuk mengorganisir kegiatan memakmurkan Masjid yang dilakukan para remaja muslim yang  memiliki  komitmen da’wah. Remaja Masjid sangat diperlukan sebagai alat untuk   mencapai   tujuan  da'wah  dan   wadah   bagi remaja muslim  dalam beraktivitas di Masjid.

 

 

MEMANFAATKAN ILMU PENGETAHUAN

 

Organisasi Remaja Masjid telah lama hadir di tengah-tengah umat Islam, namun masih banyak kekurangan yang harus dibenahi. Kelemahan ini disebabkan antara lain oleh minimnya pengetahuan organisasi dan management para aktivisnya. Padahal  dengan pemahaman yang memadai, insya Allah, akan menghasilkan pengelolaan yang baik.

Ilmu organisasi dan management yang berkembang selama ini banyak dihasilkan oleh para sarjana non-muslim. Hal ini tentu saja akan mempengaruhi nilai-nilai yang ada di dalamnya. Namun tidak ada salahnya bila kita mau mengadopsi pengetahuan tersebut asal tidak bertentangan dengan nilai-nilai Islam. Yang lebih penting lagi adalah bagaimana mengembangkannya menjadi ilmu organisasi dan management yang islami.

Allah  subhanahu wa ta’ala mengajarkan ilmu pengetahuan kepada  umat  manusia, baik  yang beriman maupun yang tidak beriman, baik yang muslim  ataupun kafir.  Allah mengangkat derajat  orang-orang  yang beriman dan diberi ilmu pengetahuan.

 

Bacalah   dengan   (menyebut)   nama   Tuhanmu  yang  menciptakan.  Dia telah menciptakan manusia dari  segumpal darah.  Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Paling Pemurah.  Yang mengajar   (manusia)   dengan   perantaraan   kalam.   Dia mengajarkan  kepada manusia apa yang tidak diketahuinya. (QS 96:1-5, Al 'Alaq).

 

Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman  di antaramu  dan  orang-orang yang  diberi  ilmu  pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang  kamu kerjakan.  (QS 58:11, Al Mujaadilah).

 

Dengan  memahami hal tersebut, tentu  bisa dimengerti tentang  kebolehan  kita mengambil ilmu  pengetahuan  dari orang-orang  non muslim untuk diterapkan  dalam  kehidupan sosial  umat Islam,  asal tidak  bertentangan  dengan  syari'at Islam. Tidak  mengherankan  ilmu-ilmu yang berkembang di kalangan non muslim juga berkembang  di lingkungan  umat Islam.

Dr.  Yusuf  Qaradlawi  menyatakan: "Adalah  tidak berdosa bagi kaum muslimin untuk mengambil dari orang lain segala  peraturan  partial,  yang oleh  para  ahli  muslim dipandang  ada  faedahnya bagi masyarakat  muslim,  sesuai dengan karakter dan kebudayaannya. Seperti peratuaran lalu lintas, peraturan   telekomunikasi,  penataan    kota, organisasi  dan  pengadaan latihan militer atau  lainnya, dengan  syarat  tidak bertentangan dengan  nash-nash  yang konstan dan kaidah-kaidah syari'ah. Dan mereka,  hendaknya menyesuaikan  apa yang diambil dari orang lain itu  dengan prinsip Islam secara benar".

 

 

PENERAPAN ASAS ASAS ORGANISASI

 

Dalam  penerapan asas-asas organisasi untuk Remaja Masjid diperlukan sikap kritis, sehingga prinsip-prinsip  organisasi  yang diterapkan  dapat  dinafasi oleh  nilai-nilai Islam baik secara  langsung  maupun tidak langsung. Adapun asas-asas organisasi tersebut antara lain:

1.      Perumusan tujuan yang jelas.

2.      Departementasi

3.      Pembagian kerja.

4.      Koordinasi.

5.      Pelimpahan wewenang.

6.      Rentang kendali

7.      Jenjang Organisasi.

8.      Kesatuan perintah.

9.      Fleksibilitas.

10.  Keberlangsungan.

11.  Keseimbangan.

12.  Kepemimpinan.

13.  Pengambilan Keputusan.

 

 

PEMILIHAN JENIS ORGANISASI

 

Jenis organisasi  apabila  ditinjau  dari  segi  wewenang, tanggungjawab maupun hubungan kerjanya dapat dibedakan dalam berbagai macam. Pemilihan  jenis organisasi akan memberi pengaruh terhadap sistem kerja Pengurus dalam menjalankan aktivitasnya. Yang perlu dipertimbangkan adalah kemampuannya dalam mencapai  tujuan secara efektif dan efisien. Untuk organisasi Remaja Masjid sebaiknya dipilih jenis organisasi lini-staf. Yang merupakan perpaduan (kombinasi) antara organisasi lini dan staf. Dengan menerapkan jenis organisasi  ini, insya Allah,  akan diperoleh beberapa keuntungan, antara lain:

a.       Adanya  pembagian kerja  yang  jelas dari masing-masing  personil  Pengurus,  baik   sebagai pimpinan, staf maupun pelaksana.

b.       Upaya   kaderisasi  dapat berlangsung dengan  baik,  karena adanya kesempatan  bagi  para Pengurus untuk mengembangkan diri.

c.       Menumbuhkan  suasana  kerjasama  yang baik  di antara Pengurus.

d.       Prinsip penempatan ahlinya pada bidangnya atau the right  man  on the right place dapat  lebih  mudah dilakukan.

e.       Menumbuhkan sikap disiplin, etos kerja, spesialisasi serta profesionalisme masing-masing Pengurus.

f.         Koordinasi dapat dilakukan dengan  baik,  karena  adanya pembidangan kerja yang jelas.

g.       Pengambilan keputusan juga dapat dilakukan dengan sehat dan cepat, karena melibatkan banyak  Pengurus dalam  bermusyawarah,  dan hasil keputusannya lekas diketahui  oleh  seluruh Pengurus.

h.       Memiliki fleksibilitas yang baik, sehingga mampu menyahuti  kebutuhan  efektifitas  dan   efisiensi organisasi dalam mencapai tujuannya.

i.         Dapat  dipergunakan oleh Remaja  Masjid yang relatif masih sederhana sampai yang besar dan komplek aktivitasnya.

 

 

STRUKTUR DAN BAGAN ORGANISASI

                   

Struktur kepengurusan menunjukkan Susunan Pengurus Remaja Masjid sesuai dengan jabatan, wewenang dan tanggungjawabnya. Sedang  bagan  organisasi merupakan gambar  struktur  organisasi Remaja Masjid yang menunjukkan posisi, hirarki, rentang kendali dan lain sebagainya. Bagan organisasi biasanya berbentuk kotak-kotak kedudukan yang dihubungkan oleh  garis-garis wewenang, baik instruksional ataupun koordinatif. Adapun  manfaat  yang  dapat   diperoleh Remaja Masjid dengan  menggunakan  bagan organisasi adalah:

a.   Dapat  diketahui besar-kecilnya organisasi Remaja Masjid.

b.   Mudah  diketahui   garis-garis   saluran wewenang  dan tanggung jawab pengurus.

c.   Bisa diketahui masing-masing bidang kerja dan jabatan Pengurus yang ada.

d.   Bisa  untuk  mengetahui  perincian aktivitas  satuan organisasi maupun tugas setiap Pengurus.

e.   Dapat untuk mengetahui nama, foto dan kedudukan masing-masing Pengurus.

f.    Dapat  untuk   menilai   apakah   suatu Remaja Masjid telah menerapkan prinsip-prinsip organisasi dengan baik atau belum.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Keterangan :

                        : Garis instruksi.

                        : Garis koordinasi.

 

Gambar: Contoh Bagan Organisasi Remaja Masjid

 

 

 

PERKEMBANGAN ORGANISASI

 

Remaja Masjid yang  maju,  modern   dan  memiliki  kegiatan beraneka ragam  serta  mampu   meningkatkan    ketaqwaan   anggotanya    adalah   merupakan   organisasi   kemasjidan   yang   sangat   diharapkan. Namun, untuk mencapai hal tersebut butuh waktu dan perjuangan yang panjang. Ada tiga   fase   dalam   tahap perkembangan  organisasi ini, yaitu: fase  penumbuhan, pembinaan dan pengembangan organisasi. Untuk menuju organisasi Remaja Masjid yang maju diperlukan kerja keras dan kinerja yang profesional para Pengurusnya.

 

MANAGEMENT REMAJA MASJID

 

Organisasi dan management bagaikan tubuh dengan jiwanya.  Keduanya merupakan  satu  kesatuan  yang tidak  bisa dipisahkan, karena di dalam  usaha  pencapaian tujuan  organisasi yang bersifat statis  harus  digerakkan oleh sesuatu yang dinamis yang disebut dengan menagement. Management  adalah  suatu proses  yang  terdiri  dari perencanaan (planning),  pengorganisasian  (organizing), pelaksanaan (actuating) dan  pengawasan  (controlling) dengan memanfaatkan ilmu dan seni dalam usaha   mencapai   tujuan   yang   telah   ditetapkan sebelumnya.

Planning adalah   proses pemikiran  dan  pengaturan yang  matang  untuk masa  akan datang dengan menentukan  kegiatan-kegiatannya. Organizing merupakan pengaturan  segala perangkat dan  sumber  daya sedemikian   rupa  sehingga   merupakan   satu kesatuan organisasi yang harmonis dan dikelola untuk  mencapai tujuan yang telah  ditetapkan. Actuating bermakna  tindakan Pengurus dan anggota dalam rangkaian  kegiatan untuk   menjalankan  roda organisasi Remaja Masjid dalam rangka mencapai  tujuan. Controlling merupakan tindakan mengawasi, mengarahkan dan mengatur pelaksanaan kegiatan Remaja Masjid agar  sesuai  dengan program dan  tujuan  yang telah  ditetapkan.

Adapun  hubungan  antara management dengan disiplin ilmu lainnya dalam lingkup ilmu administrasi dapat digambarkan sebagai berikut:

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

            Gambar: Hubungan management dengan disiplin ilmu lainnya

 

Management juga diartikan sebagai pimpinan lembaga / perusahaan. Sehingga kita  dapat mengenal  tingkat-tingkat  (level)  management   yang biasa  disebut  dengan  pimpinan  tingkat  atas  (Top Managemen),   pimpinan   tingkat menengah (Middle Management), pimpinan tingkat bawah (Lower Management).

Management sebagai aktivitas manusia sudah ada  sejak lama atau dapat dikatakan bahwa semenjak suatu  usaha dikerjakan  oleh  lebih dari satu  orang  kita  sudah dapati  suatu macam management. Management  tersebut sifatnya   sangat  sederhana  dan   bekerja   menurut tradisi. Pada awal abad ke-dua puluh F.W. Taylor  dan  H. Fayol mengembangkan management sebagai ilmu, sehingga mereka dikenal sebagai pelopor dalam ilmu management. Selanjutnya  ilmu   management   maupun penerapannya semakin berkembang sampai sekarang.

 

 

PERAN MANAGEMENT DALAM MENCAPAI TUJUAN

 

Organisasi  adalah  wadah  serta  proses  kerja  sama sejumlah  manusia yang terikat dalam hubungan  formal dalam  rangkaian hirarki untuk mencapai  tujuan  yang telah  ditentukan. Organisasi bukanlah tujuan  tetapi alat  untuk  mencapai  tujuan.  Sebagai  bagian  dari administrasi,   organisasi  adalah  merupakan   wadah dimana  kegiatan  management dijalankan.  Karena  itu tujuan  dari organisasi adalah juga merupakan  tujuan management.

Dalam usaha mencapai tujuan Remaja Masjid, management  memiliki  peran  agar  proses  pencapaian tujuan  tersebut  dapat  berlangsung  secara  efektif  (berdaya  guna) dan efisien (berhasil  guna).  Dengan menerapkan prinsip-prinsip   management  seperti planning, organizing, actuating, controlling dan lain sebagainya  tujuan organisasi dapat diupayakan  untuk dicapai   dengan  lebih  baik. 

Management   memberi efektifitas dan efisiensi kerja yang lebih baik  bagi Pengurus Remaja Masjid dalam mencapai tujuan organisasi. Dalam mencapai   tujuan tersebut,    management memanfaatkan   sumber   daya   yang   tersedia   atau berpotensi. Adapun sumber daya management (management resources) Remaja Masjid antara  lain: Akhlak   (morale),  orang  (man),   mesin   (machine), material  (material), metode (method), uang  (money), waktu  (time),  sasaran da'wah (market) dan  lain  sebagainya.

PENUTUP

 

Remaja Masjid yang ingin maju  harus mampu mengaplikasikan  organisasi dan management modern,  tentu saja harus mewarnainya  dengan  nilai-nilai Islam. Bagaimanapun organisasi dan management ditemukan dan dikembangkan oleh kebanyakan non-muslim  terutama dari  Barat  dan Jepang yang memiliki standard  nilai tersendiri,  untuk itu dalam  mengadopsinya  dituntut kearifan dan keahlian yang handal.

Penerapan  ilmu organisasi dan management dalam aktivitas Remaja Masjid yang  islami, serta diikuti dengan  kemampuan mengaplikasikan dan  merekayasanya secara profesional, insya  Allah, akan meningkatkan daya guna  dan  hasil guna aktivitas yang diselenggarakan.

 

 


KEPEMIMPINAN REMAJA MASJID

                       

Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar;

merekalah orang-orang yang beruntung.

 

(QS 3:104, Ali ‘Imran)

 

 

Kepemimpinan (leadership) telah lama dikenal dan diselenggarakan umat manusia, karena sebagai mahluk sosial mereka hidup berinteraksi satu dengan yang lain dan membentuk komunitas, baik dalam lingkup besar maupun kecil. Kepemimpinan sangat diperlukan dalam setiap kelompok, terutama untuk menjaga persatuan dan kesatuan serta dalam memanfaatkan seluruh sumber daya secara optimal.

Kepemimpinan berasal dari kata pemimpin (leader) berarti orang yang memimpin massa atau kelompok. Dalam masyarakat primitif, pemimpin ditentukan oleh kekuatan, siapa kuat  dialah yang menang dan memimpin. Dalam masyarakat feodal, pemimpin ditentukan oleh keturunan, kekayaan dan kedekatan dengan penguasa. Dalam masyarakat tradisional, pemimpin erat kaitannya dengan hubungan antara patron-client, sehingga kharisma menjadi garansi. Sementara itu, dalam masyarakat modern pemimpin telah terdiferensiasi dalam berbagai bentuknya, ada pemimpin formal, non-formal, kantor, organisasi, Masjid, perusahaan, sekolah dan lain sebagainya. Dalam realitanya, kita masih dapat menjumpai bentuk-bentuk kepemimpinan tersebut di era milenium ke-3 ini.

 

 

PENGERTIAN

 

Kepemimpinan adalah merupakan aktivitas dan proses memimpin, mengatur, mengelola, merekayasa dan mengkoordinasikan seluruh potensi sumber daya untuk mencapai tujuan. Orang yang melaksanakannya disebut dengan pemimpin (leader). Meskipun figur pemimpin sangat berpengaruh, namun bagi organisasi yang progressif harus mengembangkan leadership berdasarkan prinsip-prinsip, sistim dan mekanisme yang jelas.

Dalam tinjauan perjuangan, kepemimpinan dapat diartikan sebagai upaya untuk menghimpun, menyusun, membina, mengarahkan dan memimpin sumber daya dan kekuatan dalam perjuangan mencapai tujuan. Karena itu kesuksesan pemimpin dapat diukur dari kemampuannya mencapai tujuan.

 

 

PERAN KEPEMIMPINAN DALAM MENCAPAI TUJUAN

 

Dari pengertian tersebut di atas dapat dipahami, bahwa seorang pemimpin dituntut untuk membawa kelompoknya mencapai tujuan yang telah disepakati atau ditetapkan bersama. Kemampuan mencapai tujuan atau melaksanakan amanah menjadi tolak-ukur terpenting untuk mengukur keberhasilannya dalam memimpin.

Memimpin berkaitan erat dengan perjuangan, yaitu berjuang untuk mencapai tujuan dengan melibatkan orang-orang. Tujuan akan dicapai melalui sejumlah tahapan perjuangan dan setiap tahap memiliki sasaran (target / tujuan antara) masing-masing. Yang penting di sini adalah menjaga moril perjuangan kelompok, agar tetap tinggi semangatnya dalam mencapai tujuan.

Peran kepemimpinan dalam mencapai tujuan organisasi Remaja Masjid sangat besar. Kepemimpinan Pengurus Remaja Masjid yang efektif dan mampu memanfaatkan sumber daya yang terbatas, insya Allah, akan membawa organisasi mencapai tujuannya tahap demi tahap. Hal ini dapat dilihat dengan adanya kemajuan (progress) dalam penyelenggaraan aktivitas dari waktu ke waktu.

 

 

UNSUR UNSUR KEPEMIMPINAN

 

Keberhasilan kepemimpinan dalam organisasi Remaja Masjid sangat dipengaruhi oleh  berbagai unsur pendukungnya, di antaranya adalah:

 

 

1.      Pemimpin.

Sebagai pemain utama dalam organisasi, pemimpin sangat berpengaruh dalam sistim kepemimpinan. Adanya Pengurus yang sehat jasmani-ruhani, cakap dalam mengelola, berwawasan luas dan memiliki integritas yang tinggi menjadikan kepemimpinan Remaja Masjid capable dalam mencapai tujuannya.

 

2.      Tujuan.

Sesuatu yang ingin dicapai dan menjadi cita-cita organisasi sekaligus merupakan ideologi para fungsionaris dan anggota. Tujuan Remaja Masjid harus dirumuskan dalam Anggaran Dasar, kemudian ditafsirkan dan disosialisasikan. Tujuan dicapai secara bertahap dan dalam setiap tahapan ada tujuan antara (target / sasaran).

 

3.      Sistim organisasi.

Berupa konstitusi organisasi yang dituangkan dalam pedoman-pedoman dasar organisasi Remaja Masjid maupun petunjuk-petunjuk pelaksanaannya, termasuk di dalamnya aturan-aturan  konvensional yang berlaku dalam internal organisasi. Untuk organisasi Remaja Masjid yang mapan, sistim organisasi telah berjalan secara rutin bagaikan mekanis.

 

4.      Stratak.

Yaitu strategi dan taktik yang disusun untuk mencapai tujuan organisasi Remaja Masjid. Merupakan garis perjuangan organisasi dengan menentukan sasaran-sasaran antara yang akan dicapai dalam jangka waktu tertentu sesuai dengan situasi dan kondisinya. Diharapkan stratak yang disusun dapat realistis namun tetap berpegang pada prinsip-prinsip perjuangan.

 

5.      Ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis.

Yaitu ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis yang diperlukan dalam mendukung kepemimpinan, baik secara langsung maupun tidak langsung. Ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis dipelajari, dipahami dan diterapkan dalam kehidupan organisasi Remaja Masjid sehari-hari. Peningkatan wawasan keilmuan dan keterampilan dilakukan melalui kajian-kajian dan pelatihan-pelatihan yang terstruktur.

6.      Sumber daya.

Sumber daya organisasi Remaja Masjid sangat besar pengaruhnya dalam kepemimpinan, terutama sumber daya manusia (SDM). Diperlukan sumber daya remaja muslim yang dapat diandalkan, baik secara kuantitas maupun kualitas. Sumber daya muslim organisasi Remaja Masjid terdiri dari kader, aktivis, simpatisan dan partisipan. Sumber daya lain yang berpengaruh terhadap keberhasilan dalam kepemimpinan adalah dana dan kekayaan organisasi. Sumber dana dan kekayaan organisasi yang mencukupi, akan memberi dukungan yang berarti dalam penyelenggaraan aktivitas kepemimpinan.

 

 

KETERAMPILAN PEMIMPIN

 

Sebagaimana dalam management, bagi seorang pemimpin perlu memiliki secara proposional keterampilan yang meliputi:

 

1.      Technical skill.

Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan teknis yang berhubungan erat dengan bidang kerjanya, diantaranya adalah: merencanakan kegiatan, menyusun anggaran, berkomunikasi, administrasi, negosiasi, belajar dan mengajar, mengambil keputusan dan lain sebagainya.

 

2.      Human skill.

Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan yang berkaitan dengan manusia, di antaranya adalah: kemampuan mengenal dirinya sendiri, kemampuan psikologi massa, bekerja dalam kelompok, memimpin kelompok, public relation dan lain sebagainya

 

3.      Conceptional skill.

Seorang pemimpin dituntut untuk memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam menyusun konsep yang berkaitan dengan organisasi dan perjuangan secara luas.

 

 

TAULADAN KEPEMIMPINAN RASULULLAH

 

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam adalah tauladan yang baik bagi kita dalam berbagai urusan, termasuk dalam kepemimpinan. Beberapa  hal yang dapat kita tauladani dalam kepemimpinan beliau adalah antara lain:

a.       Memiliki integritas pribadi yang benar sebagai seorang pemimpin, baik dalam pikiran, ucapan maupun perbuatan. Kepemimpinannya penuh nuansa religius.

b.      Memiliki tujuan yang jelas, yaitu tegaknya Islam sebagai rahmatan lil ‘alamin. Bermula dari Makkah, lalu Madinah dan selanjutnya daerah-daerah yang lain.

c.       Memiliki sistim organisasi yang  kokoh. Berorientasi pada kebenaran dari Allah subhanahu wa ta’ala dan diimplementasikan dalam berbagai aktivitas kehidupan.

d.      Membentuk Masyarakat Islam dengan menerapkan syari’at. Pelaksanaan hududullah, qishash dan ta’zir diselenggarakan secara adil.

e.       Mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis. Mendorong aktivitas menuntut ilmu, baca tulis, mempelajari berbagai keterampilan dan lain sebagainya.

f.        Meningkatkan kuantitas dan kualitas sumber daya, diantaranya dengan melakukan da’wah islamiyah dan tarbiyah kepada umat manusia ke berbagai penjuru tempat serta menumbuhsuburkan zakat, shadaqah dan infaq.

Sebagai seorang pemimpin yang sukses beliau memiliki sifat-sifat yang baik, di antaranya adalah:

a.       Menyampaikan amanah dengan benar.

b.      Menjadi tauladan yang baik (uswatun hasanah).

c.       Istiqamah dalam prinsip dan tasamuh dalam hal-hal non-prinsip.

d.      Sangat mementingkan umat.

e.       Bermusyawarah dengan para sahabatnya.

f.        Berjuang, berdo’a dan tidak putus asa.

g.       Ikhtiyar, sabar dan tawakkal kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

h.       Dan lain sebagainya.

 

 

 

 

POLA KEPEMIMPINAN

 

Merupakan cara menyelenggarakan kepemimpinan organisasi Remaja Masjid dengan menangani semua unsur-unsur leadership di atas berdasarkan prioritas ataupun kebutuhan. Dalam kondisi normal, organisasi Remaja Masjid harus menerapkan pola kepemimpinan berdasarkan  urut-urutan prioritas, artinya konsolidasi dilakukan berturut-turut mulai dari pemimpin, tujuan, sistim organisasi, stratak, ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis, dan pada akhirnya sumber daya. Dalam kondisi luar biasa, pola kepemimpinan diterapkan menurut kebutuhan organisasi pada saat itu.

Untuk kondisi normal, mula-mula yang harus diperbaiki adalah pemimpin, karena pemimpinlah yang bertanggungjawab atas segala kekurangan yang dihadapi organisasi. Dalam kehidupan modern pemimpin tidak hanya satu orang, tetapi kekuasaannya telah didelegasikan kepada banyak orang, jadi kepemimpinannya bersifat kolektif. Dalam organisasi Remaja Masjid yang disebut pemimpin adalah Pengurus. Karena itu Pengurus Remaja Masjid harus ditingkatkan kualitas kepemimpinannya.

Tujuan organisasi ditetapkan dan dijabarkan dalam tafsir tujuan.  Tujuan dan tafsirnya disosialisasikan dalam aktivitas organisasi, terutama melalui pelatihan-pelatihan dan perkaderan yang lain. Diharapkan para anggota Remaja Masjid hafal, mengerti dan memahami tujuan organisasi dengan jelas. Dalam kejelasan terhadap tujuan terletak pula motivasi para fungsionaris dan anggota.

Sistim organisasi disusun sampai detail dan dilakukan perbaikan-perbaikan secara terus menerus ( continuous improvements ). Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga Remaja Masjid diterapkan dan ditaati aturannya. Pedoman-pedoman dasar organisasi yang lain beserta petunjuk-petunjuk pelaksanaannya diimplementasikan dalam setiap aktivitas.

Strategi dan taktik Remaja Masjid dibangun untuk mengantisipasi kondisi perjuangan secara aktual dalam mencapai tujuan-tujuan antara (sasaran) yang bermuara pada tujuan organisasi.  Perjuangan Remaja Masjid memerlukan strategi berikut taktik-taktiknya, agar tidak terjebak dalam oportunisme atau jalan di tempat. Berjuang tanpa strategi bagaikan berjalan di malam hari nan gelap gulita tanpa penerangan, bulan dan bintang-bintang.

Ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis ditingkatkan dan dimantapkan sebagai alat pendukung perjuangan mencapai tujuan organisasi Remaja Masjid. Kajian-kajian dan pelatihan-pelatihan  yang terstruktur, terencana dan diselenggarakan secara terus menerus dengan kurikulum dan metode yang dibakukan (standard) telah menjadi aktivitas rutin sebagai bagian proses perkaderan anggota.

Sumber daya organisasi ditingkatkan baik kuantitas maupun kualitasnya. Dilakukan rekrutmen remaja muslim yang belum terdaftar maupun yang baru, kemudian diikutsertakan dalam proses perkaderan Remaja Masjid. Dilakukan penggalangan dana dan kekayaan organisasi, baik dari sumber internal maupun eksternal anggota. Demikian pula fasilitas dan inventaris organisasi dilengkapi dan dimodernisir secara bertahap. Peningkatan sumber daya dilakukan secara sistematis dan berkelanjutan.

 

 

TIPOLOGI PEMIMPIN

 

Berdasarkan cara melaksanakan kepemimpinannya, ada beberapa tipe pemimpin dalam memimpin massa atau anggotanya di antaranya adalah:

 

a.      Pemimpin otoriter.

Pemimpin yang memaksakan kehendak dalam memimpin kelompok atau masyarakatnya. Segala keinginannya tidak boleh ditolak dan harus dilaksanakan. Biasanya kurang menyukai musyawarah atau meminta pendapat orang lain dan pengambilan keputusan seolah-olah menjadi otoritas pribadi.

 

b.      Pemimpin lemah.

Pemimpin yang kurang atau tidak memiliki pendirian tegas, mudah dipengaruhi orang lain terutama para aparat pembantunya. Kurang berani mengambil keputusan dan resiko. Sikap kepemimpinannya kurang jelas, karena itu banyak pihak bisa bermain dibalik kekuasaannya.

 

c.       Pemimpin demokratis.

Pemimpin yang mau menerima pendapat orang lain. Menyukai musyawarah dan mencari pendapat yang dianggap terbaik dalam menyelesaikan masalah. Mampu mengakomodir pendapat-pendapat pribadi atau kelompok yang berbeda.

Bagi organiasi Remaja Masjid, sebaiknya dipilih pemimpin yang demokratis  dan mampu bersifat tegas bilamana diperlukan, namun tidak otoriter atau lemah.

 

 

MEMILIH PEMIMPIN

 

Kepemimpinan memiliki konotasi melakukan perjuangan dan pembaharuan yang  bersifat spekulatif dan memiliki resiko. Kepemimpinan seorang pemimpin adalah merupakan perpaduan antara bakat, seni dan keterampilan dalam mencapai tujuan. Pemimpin yang baik bagi organisasi Remaja Masjid yang sudah mapan adalah yang tumbuh dari bawah dan memiliki reputasi maupun prestasi dalam medan juang.

Memilih atau menerima pendatang baru (new comer) sebagai pemimpin yang belum teruji kemampuannya memiliki resiko kegagalan yang cukup tinggi. Ini bukan berarti pendatang baru tidak capable sebagai Pengurus Remaja Masjid. Ada juga pendatang baru yang qualified dan mampu memutar roda kepemimpinan dengan baik untuk mencapai tujuan.

Berikut ini adalah beberapa kriteria ideal  yang sebaiknya perlu ada dalam diri seorang yang akan dipilih sebagai pemimpin atau Pengurus Remaja Masjid, yaitu antara lain:

a.       Beriman dan bertaqwa kepada Allah subhanahu wa ta’ala.

b.      Sehat jasmani dan ruhani.

c.       Mampu menjadi contoh yang baik ( uswatun hasanah ).

d.      Ber-akhlaqul karimah dan tidak berperangai buruk.

e.       Memiliki integritas pribadi yang benar dan dapat dipercaya.

f.        Memiliki pengetahuan tentang ideologi, organisasi, strategi, taktik, ilmu pengetahuan dan kemampuan teknis.

g.       Mengerti dan memahami organisasi Remaja Masjid yang akan dipimpinnya.

h.       Memiliki pendukung, diterima anggota dan berwibawa, bilamana perlu memiliki kharisma.

i.         Berani berjuang dan menanggung resiko.

j.        Memiliki kesediaan untuk memimpin dan mengemban amanah.

k.      Mampu bertanggungjawab atas kepemimpinannya.

AMANAH, WEWENANG, TUGAS DAN TANGGUNGJAWAB PEMIMPIN

 

Konsep dasar kepemimpinan adalah pengembanan amanah dan partisipasi, bukan perolehan kekuasaan dan masa bodoh. Pengurus Remaja Masjid mengemban amanah anggota bukan menguasai anggota. Disamping itu,  anggota harus rela untuk diatur, mendukung dan berpartisipasi aktif dalam kegiatan yang diselenggarakan.

Seimbang dengan amanah yang diembannya, Pengurus Remaja Masjid juga memiliki wewenang. Dalam rangka mengemban amanah pengurus memiliki kekuasaan untuk memerintah, mengarahkan, membimbing, mengkoordinir, memotivisir, mengatur organisasi dan lain sebagainya.

Secara umum, sebagai pemimpin Pengurus Remaja Masjid memiliki tugas antara lain sebagai berikut:

a.       Mengajak anggota kepada iman, taqwa dan amal shalih untuk memperoleh ridla Allah subhanahu wa ta’ala.

b.      Mengelola dan mengarahkan organisasi untuk mencapai tujuan.

c.       Menata sistim organisasi menuju kondisi yang mapan (establish).

d.      Menetapkan target (sasaran) yang realistis.

e.       Menyusun strategi dan taktik yang akan digunakan untuk mencapai target tersebut.

f.        Melaksanakan amanah organisasi yang telah ditetapkan dalam Musyawarah Anggota.

g.       Mengembangkan ilmu pengetahuan dan keterampilan teknis dalam berorganisasi.

h.       Mengembangkan sumber daya manusia melalui perkaderan, khususnya pelatihan.

i.         Menjaga keberlangsungan dan kesinambungan organisasi.

j.        Dan lain sebagainya.

Kepemimpinan dan amanah yang diemban Pengurus Remaja Masjid secara hablumminallah dipertanggungjawabkan kepada Allah dan secara hablumminannas kepada anggota dalam Musyawarah Anggota. Dari hasil  pertanggungjawaban tersebut dapat dilakukan evaluasi kepemimpinan organisasi untuk dilakukan perbaikan di masa yang akan datang.

 

Cari Blog Ini